Alumni Al-Ikhlash Selalu Bergerak dan Menggerakkan Orang Lain

Disadur dari Wejangan Pimpinan Pondok pada Acara Silaturahmi IKPMI JABODETABEK,

Serpong Tanggerang,  03 Februari 2019

 

Saya mengucapkan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Saya juga ucapkan terima kasih atas beberapa inisiatif untuk berapa sumbangan pembangunan. Saya sampaikan sama ustadz Ading, berapa dapatnya, ternyata 54 juta, mabni’ ala subuut, karena mulai sebelum lebaran masih 54 juta juga. Apakah semiskin itu alumni-alumni ini, bu? Masa dua tahun masih angger bae…. tapi itu pun masih saya tetap apresiasi, sehingga saya bilang ke ustadz Ading, Ayip, sama teman-teman antum yang ada di Pondok, pokoknya mau 50 juta, mau berapa, pokoknya mah untuk Gedung saya namai Gedung Alumni. Karena baru memiliki keinginan saja sudah lumayan. Dan namanya itu gedung Alumni yang baru itu. Kemudian akhirnya saya merancang juga untuk menghargai yang wakafnya gimana, kan dunia ini tergantung kita mau buat apa ya terserah kita kan? Orang kan cuma wakaf buat pondok, akhirnnya kita namakan karena gedung Saudi itu ada dananya sebagian  dari Saudi. Kemudian yang kedua Gedung Sufinah itu karena tanahnya dari Ibu Sufinah, nah yang belum diberikan nama ini Haji Muchtar Khalil, padahal wakaf gedung Saudi itu tanahnya dari Pak Haji Muchtar Khalil, Hajah Ani, maka biar kebagian semua, komplek yang berada di barat mesjid itu namanya komplek Al-Mukhtaar , orang-orang terpilih artinya.

 

Saya juga senang, saya punya ikon-ikon, Itu saya ga kenal sebetulnya, kemarin dia bilang Dedi itu, saya masih ga nyambung, karena setau saya Dedi itu aswad dan ompong, tapi pas sekarang  ke sini, ni dia mandi di mana? Air apa yang membuat dia agak putih, segala bewokkan, apa betul dedi yang ini ya, sohih itu dedi yang itu, nah memang itu saya menyebutnya sebagai perubahan. Pertama bahwa kegiatan seperti ini memang ajang evaluasi. Yang dievaluasinya apa? Ya kita lah, self assesment, mengevaluasi diri kita, kita kan harus belajar begitu, sebetulnya antum bertemu dengan temen-temen, kemudian kamu ditanya, kamu gimana punya anak berapa itukan sama saja dengan mengevaluasi sebetulnya, sampe mendalam lagi.

 

Itu sebetulnya hal-hal yang sangat mendalam, atau bisa juga sesuatu yang alamiah tapi bisa kita maknai. Kan kehidupan kita gak semuanya mesti ditata dengan rapih kan. Sesuatu yang alamiyah tapi bisa kita analisis, kita bisa perhatikan kemudian dari situ kita sebetulnya bisa gali koidah-koidah Apakah nahwu lahir sebelum bahasa Arab ada atau sesudah bahasa Arab? Itu kan nahwu lahir karena orang rajin saja mengumpulkan, mengelompokan kemudian diambil kesimpulan jadilah koidah nahwu.

 

Memang secara naluri manusia itu anti indoktrinasi, ga mau sebetulnya diarahkan, makanya kita-kita ini sebagai orang-orang yang  faham, bahasa-bahasanya harus mulai diolah lagi. Tidak kamu harus, karena pertanyaan selanjutnya yang lahir adalah yang mengharuskan saya siapa, otoritas dan hak anda apa? Anda kan bukan siapa-siapa bagi saya, dan begitu seterusnya. Tapi coba kalau ungkapannya begini, kamu bagus deh kayaknya kalau begini…… itu lebih enak.

 

Jadi kegiatan seperti ini, kemarin saya mengobrol dengan pa Ading, bagusnya di setiap wilayah itu ada ya kemudian ketua IKPMI itu biar yatamasya lah biar tidak di Oleced melulu, mengukuhkan di mana-mana biar tau dunia  lah. Sampe nanti kalau ga ada ongkosnya gimana? Minta ke pondok, pondok kaya tenang saja. Artinya nanti kan begini judulnya. Ikatan Keluarga Pondok Modern Al-Ikhlash kan pengurusnya memang harus dari pusat, jangan sampai jauh dari wilayah, karena nanti akan banyak hiilah, alasan. Makanya kalau yang dekat-dekat itu bisa lebih terselesaikan masalahnya.

 

Kemudian banyak evaluasi-evaluasi lain, kita bangun dengan yang enak-enak saja, seperti begini, katakanlah misalkan, orang kan ada yang senang-ada yang  tidak senang. Biarkan saja karena yang kaya gitu itu alami, kita mau hapus tidak akan bisa. Negara Indonesia itu tidak bisa maju karena dia mimpinya terlalu tinggi, mengentaskan kemiskinan, itu melawan Tuhan. Orang di sini manusia sudah ada dua, ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang munfiq kemudian ada yang mustahiq. Kalau yang munfiqun itu cuma satu, sedangkan mustahiqnya saja itu banyak sampai delapan,  nah antum di mana posisinya. Makanya kita evaluasi lagi. Dulu waktu santri kita kerjaanya minta, Daryatmo kaya gitu tuh kalau tidak dikirim sudah pusing dia. Sebagaimana pengalaman kalian waktu nyantri asal  mau rajin minta ya pasti dapat.

 

Dan itu adalah janji Allah kan, kalau yang rajin ya mesti dapat. Wa qul i’maluu kan tadi itu, bekerja saja. Sampai saya punya teori nih sama ibu, orang itu kalau asal rajin saja pasti hidup dia, insyallah kenyang. Contohnya ada di belakang pondok itu emak-emak setiap hari bersihin ruput, pinggir jalan, itu kalau kita mau lewat tuh , eh si emak, buka pintu terus kasih. Nah ini akhirnya saya ambil kesimpulan, kayaknya orang kalau hanya untuk  sekedar makan saja, ga usah mesti bawa map, ga usah bawa lain-lain, begitu saja sudah bisa kalau hanya sekedar untuk makan mah. Itu kan cara Allah memberi rizki. Ni si emak tiap sore sasapuuu bae…. glosor lagi kan 50 ribu, jadi seneng dia. Tapi kadang-kadang  feedbacknya bagus juga, di hari raya itu mesti bawa kue kuping. Saya kadang-kadang berhitung, tapi ternyata kebaikan tuh tidak bisa dihitung hitung. Saya berhitung kalau bikin kuping itu harganya berapa, minyaknya berapa, sementara kita ngamplopin cuman 50 ribu, dia dapet untung ga ya. Ya walaupun dalam kamus  Tuhan kan tidak akan pernah hitung-menghitung kan. Tapi kan kita mesti pinter mikir juga, kayaknya besok harus ditingkatkan lagi karena dia datangnya dengan feedback yang mungkin lebih besar dia. Karena ternyata orang lain juga ingin memberi.

 

Itu yang ingin saya katakan penting untuk mengevauasi diri. Kalau kita ini sudah berubah atau belum? Kalau kemarin waktu santri kita itu kerjaanya minta-minta, min ashnaafin yang samaniyah, nah kalau sekarang sudah berubah belum, berubah menuju pada fase munfiq. Saya lihat kan itu sudah mulai ada. Ada orang yang sudah mulai senang, ada yang menjadikan sebagai lifestyle untuk berinfak itu bagus. Menurut saya itu membuat hidup kita lebih ringan. Karena kita tidak pernah selalu mengkalkulasi segala sesuatu milik Tuhan. Itu bahkan dihitung saja tidak pernah. Contoh, saya sudah mau buka-bukaan sama ibu ini, kemarin saya rapat, ini uang di dompet saya ini sudah berbulan-buan gak keluar-keluar, ini gak laku, entah karena saya tidak pernah jajan atau apalah itu,  pas saya hitung ada lima ratus atau enam ratus, waktu rapat itu ada yang keliling itu ibu-ibu datang, acara di Ciawi di IPHI, terus saya kerjain dulu itu ibu-ibu saya tanya, dari mana? Dia jawab dari Cirebon. Kemudian saya tanya, ada berapa orang? Saya tanya gitu jawab orangnya itu lucu, “Kami 15 orang pak” seneng itu dia ditanya, kemudian saya bilang jujur ya?! Berapa persen kamu dapat dari setiap setoran, dia pertama diam, tapi kemudian dijawab “jujur pak 5 persen”. Rupanya si ibu itu emang betul dugaan kita. Mereka ambil 5 % kemudian sisanya dia setorkan kepada kolektor pemberian derma itu. Tapi pertanyaannya yang mengumpulkan dananya benar apa tidak? Kalo si ibu tadi sudah ngaku. Ya sudah saya bilang kalau sudah jelas baru saya kasih. Berarti saya sudah merelakan yang 5 % untuk dia kemudian yang 95% diserahkan kepada kepanitiaannya. Minimal saya sudah rela. Dari pada saya menggerutu suu’dzon yang  tidak- tidak kan?

 

Nah itu perubahan, judulnya berubah. Jadi harus bergerak, berubah. Bisa kita sekarang mencoba, jangan bilang nanti saya belum punya usaha, belum punya perusahaan, tapi rizki punya kan?

 

Untuk mendoakan alumni semuanya tahu, kita kalau di pertemuan-pertemuan selalu mendoakan alumni-alumni. Yang tidak tahu jalan pulang, mari kita doakan segera  kembali on the track, kepada jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Ini karena kadang-kadang kita juga mesti pilih-pilih doa.

 

Oke, tapi saya lihat sudah pada berubah, saya bilang evaluasi kan, dan Alhamdulillah pada berubah. Tadi contoh kecil dari Dedi, nih anak sudah bagus, vocalnya sudah bagus, ada suara, tekanan tekanannya sudah bagus, PD nya ada. Jadi saya evaluasi terus, yang belum ada kelihatannya duitnya, buktinya masih minta  infaq tadi. Tapi tidak apa-apa, biar orang yang suka minta-minta itu biarkan saja kenapa, karena nanti suatu saat dia akan sampai pada titik di mana bosan meminta dan ingin memberi. Amiin.

 

Benar, kamu kalau melihat ada orang suka memberi itu analisis, ada apa ini, why? Satu,  analisisnya dulu ia orang miskin pasti sengsara hidupnya banyak ditolong orang, jadi wajar kalau dia ingin menolong orang. Yang kedua ni orang soleh banget gituh. Yang ketiga misalkan ini orang cari muka. Yang keempat, ohh mungkin cari status, gampang sekarang cari status mah. Nanti buku saya yang berikutnya saya kasih judul 99 status untuk putra-putri ku. Dan Alhamdulillah itu teman-teman pada mengapresiasi, ada yang komentar  langsung dari jakarta kemarin, katanya usul pa kyai status-status itu dijadikan judul buku kemudian diberi penjelasan dibawahnya. Saya bilang emang niat saya begitu, saya kan gak mau rugi. Lagipula saya lagi berpacu sama Jupri masalahnya. Jufri ini orang yang memanfaatkan masalah orang lain untuk dijadikan buku.

 

Kemudian, yang penting bergeraklah, tidak diam, orang  itu yang penting gerak, insyallah sehat. Jangan diam! Yang bergerak apa, bisa fisik bisa juga fikirannya bergerak, jangan hanya diam saja. Mikirin cuman muter- muter saja. Begini manusia itu, kalo tamat dari Al-Ikhlash dari S1 sudah berapa tahun?  Sebenarnya kalau sudah 15 tahun itu orang baru bisa take off, lepas landas. Artinya sudah menyelesaikan masalah sendiri, itu masa pelit-pelitnya orang. Takut engga makan, takut anak istri ga makan, takut ga kebeli rumah, takut ga kebeli mobil. Walaupun kalau udah ada juga ya ga dipake juga. Disimpen aja di garasi karena ga ada tempat parkirnya. Tapi sekarang menjadi tidak lucu untuk berlomba-lomba beli mobil. Karena sekarang sudah banyak kendaraan yang costnya murah, tapi sangat nyaman.

 

Kalau mau memaknai sesuatu, biar banyak bersyukur , cari segala sesuatu yang mengenakkan buat kita. Jangan ikuti kata orang. Misalkan waah itu karakter orang miskin, kita rubah  menjadi itulah karakter orang yang mau bersyukur, itu kan positif. Seperti itulah kalau mau memaknai sesuatu, itulah tekniknya.

 

Jadi perubahan mindset, perubahan lain-lain itu kita yang buat, kita yang mengkontruksi sendiri. Kita yang meraancang kehidupan. Kalau kita yang merancang kan enak, kalau dirancang oleh orang kang a enak.

 

Oke, ini tadi sebagaimana disampaikan ada 90 orang alumni yang terdeteksi di JABODETABEK. Alumni kita tuh ada seribuan lebih, masa cuman 90. Itu yang lain kemana? Apa mungkin dia pakai teori yang 15 tahun tadi.  Jadi akan berani muncul, mengaku dari Al-Ikhlash, dan baru mau bergabung dengan teman-teman dari Al-Ikhlash itu setelah melewati fase yang 15 tahun itu. Seperti fase fuqoro, masaskin, wal kadzimina ‘ghodzo wal ‘aafina ‘aninnasi. Nanti kalau dia sudah merasa siap, merasa bergabung, artinya dia sudah siap dengan segudang pertanyaan. Jadi mungkin dia sedang mempersiapkan jawaban-jawabannya. Ya walaupun saya sampaikan dengan bercanda, tapi antum mesti tahu dan paham bahwa 15 tahun setelah usia s1 itu umurnya 25 ya, 25 tambah 15 berapa? 40 tahun, dengan asumsi bahwa selama dia masih kuliah itu masih belum bekerja, belum sukses. Artinya dia masih asnaf yang delapan. Nah itu setelah  fase 15 tahun  dia baru memperkenalkan dirinya, berkeluarga, memenuhi kebutuhan keluarganya, berarti sampailah ke umur 40. Dan setelah 40 karena dia sudah merasa selesai, maka dia akan keluar, akan memberi yang lain, akan berarti dari yang lain.

Nah status saya yang 99 itu sebenarnya adalah hasil perjalanan , kadang-kadang setelah melihat kalian, kadang-kadang melihat diri sendiri, kadang-kadang melihat tingkah laku orang, itu saya buatkan jadi status-status. Dan kalau diperas isinya hadits sama ayat itu. Cuman kalau saya sebutkan hadits, sebutkan ayat, orang sudah alergi duluan. Ada juga kan orang yang takut. Nah kalau orang itukan ada yang mirip setan kan, dan setan itu takutnya sama adzan, dengan ayat al-qur’an. Nah karena ada banyak orang-orang yang masih bermental ganda. Kadang takut, maka kemudian saya olah menjadi bahasa yang enak dicerna. Seakan-akan itu bahasa manusia. Tapi nanti dalam penjelasaannya akan kita kasih juga keterangan ayat-ayat. Itu hanya teknik saja, jadi bukan pengarahan. Itu teknis saja buat saya untuk menggiring, karena yang mau sampaikan ya pengarahan-pengarahan juga, apapun itu namanya. Cuman ya pengarahan darikyai itu ya doa juga kan. Karena kamu berbicara tanpa mendoakan juga kan tidak mungkin, la tanha ‘an khulqin wa ta’ti mitslahu ‘aarun alaika ‘adzim.

 

Kalau dalam agama Islam ituh, kita mesti penuhi diri kita dulu, baru ke orang lain. Artinya kita mesti soleh dulu baru kesolehan itu bisa tertrasnfer ke yang lain. Orang baik bisa tertransfer kebaikannya. Saya kira begitu.

 

Berubah sudah ya, sudah pada berubah belum. Alhamdulillah. Dan perubahan mindset yang  tadi dari yang kondisi sebelumnya mahasiswa banyak minta, menjadi memberi. Tidak harus menunggu jadi kaya terlebhih dahulu untuk berinfak. Saya tetep, dan yakin betul dengan infak itu. Ya itu, uang saya bisa nganggur sekian bulan ga dipake. Padahal kan saya ceramah harus makan juga. Sampai bingung kemarin itu pas rapat IPHI saya bilang hitung berapa jumlah peserta rapat terus pesan nasi kotak, terus teman saya bilang ga usah pak. Dan saya jawab “ini duit sudah nganggur lama sekali…” nah dalam rangka idkholussuruuur  sama ke teman-teman IPHI yang sudah lama tidak ketemu, ya sudah saya traktir saja. Dan sebetulnya saya ingin mengatakan sama mereka, dan saya bangun mindsetnya,  mindset infaknya itu. Ajlibirrizqo bi sodaqoh nya saya bangun. Tadinya orang kalau ada kegiatan di IPHI tuh patung cuman 50 ribu sudah paling besar, kalau sekarang sudah 500 ribu. Dan itu naik, increase. Wah luar biasa, segitu saja saya sudah bahagia, kan begitu hadits nabi bunyinya, harus senang ketika orang lain senang. Nah apa tuh hadistnya, “Yuhibbu li akhiihi maa yuhibbu linafsihi” لايؤمن أحدكم حتى يحب لــأحيه مايحب لنفسه.

 

Itu kan kalau terjemahan kelas 1 KMI lain yah, tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Nah yang itu kurang pas, semestinya begini. Kita bahagia melihat orang lain bahagia, karena mesti di bayan hadits itu seperti itu. Naah kebanyakan manusia kan dia tidak senang kalau melihat  orang lain senang. Kita ini semuanya kalau dalam hal ibadah itu motivasi, untuk selalu yang terbaik. Tapi untuk menyalahkan dan menilai itu bukan wewenang kita.

 

Kemudian mohon doanya agar gedung alumni itu bermanfaat, bisa cepat selesai dan panjang usianya. Di akhir Ini saya resume:

  1. Dari meminta jadi memberi. Itu kan berubah namanya. Kemudian nilainya juga berubah, perannya juga berubah.
  2. Kegiatan ini supaya digalakan tapi saya lebih stressing pada bergerak. Yang penting semua kita adalah penggerak dan mampu menggerakkan orang lain.
  3. Jadilah kita hidup ini bisa bergerak dan mampu menggerakkan orang lain. Itu artinya kita sebagai pendidik, kita sebagai pemimpin. Ya jangan malu, kalau di hadapan Allah kita mengaku tidak bisa apa-apa. Kalau saya suka begini ketika berdoa, “Ya Allah saya ini sebetulnya di hadapan engkau bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya dan tidak bisa apa-apa. Tapi, orang-orang terlanjur memanggil saya ustadz, maka tolonglah bantu saya supaya sesuai dengan sebutan orang-orang. Karena pada hakekatnya sebutan orang-orang adalah sebutan dari Mu juga yang kau pancarkan lewat lisan orang-orang”. Kan begitu, ya ujungnya Tauhid juga, tidak ada tempat untuk kita sok-sokan dan lain sebagainya karena kita ini sedang menjalani, maka pandaikanlah untuk memberi definisi, nikmati… wassalam