Aku Bangga Karena Aku Guru

(oleh: Riki, S.S., M.Pd.)

Secara sistemik guru merupakan komponen paling mendasar dalam dunia pendidikan.  Segala upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh eksistensinya.  Oleh karena itu keberadaan guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting.  Namun, sosok guru yang seperti apakah yang akan menentukan kualitas pendidikan tersebut?

Seiring dengan laju perkembangan jaman dan percepatan dunia informasi, bersama itupula dunia pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dan berkembang yang semakin kompleks. Para guru dituntut  mampu  bersinergi dalam laju perkembangan pendidikan dengan kompetensi dirinya. Jika tuntutan perubahan diabaikan, tidak mustahil laju perkembangan pendidikan akan mengalami masalah serius.

Menjadi seorang guru tentunya tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Profesi guru ini sangat berat,  karena guru  tidak hanya bertanggungjawab dalam memenuhi kecerdasan ilmu pengetahuan (cognitive) peserta didiknya, tetapi juga bertanggungjawab dalam mencerdaskan  kepribadian (affective) dan kecakapan hidup (psychomotor).

Walaupun demikian beratnya tugas seorang guru, tetapi hal itu tidak menjadi kendala psikologis bagi siapa pun yang ingin menjadi guru apalagi bagi yang sudah menjadi guru. Kompetensi Guru merupakan sebuah tuntutan dan sekaligus menjadi  kontrak kerja para guru untuk senantiasa menempa dirinya menjadi sosok pendidik yang qualified dan well educated dalam mengakses tuntutan perkembangan dunia pendidikan.

Upaya serius dan kajian yang komperhensif dalam meningkatkan mutu guru menjadi kesadaran nurani siapa pun yang menjadi guru. Hal ini menjadi tuntutan mendasar untuk dipenuhi,  jelas alasannya karena mutu guru sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran dan lebih luasnya lagi pendidikan.

Mengarah kepada pencapaian mutu guru, pemerintah melalui kebijakan pendidikan nasional telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional.  Kebijakan ini memberikan standar kualifikasi kompetensi bagi guru di Indonesia.

Kemapanan kompetensi guru dalam mengajar memberikan harapan tercapainya keberhasilan pembelajaran, khususnya meyakinkan para peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana dalam teori Maslow dikenal dengan istilah Goal Internalization (nilai-nilai tujuan) atau sadar akan tujuan pembelajaran.  Secara keseluruhan, kemapanan guru dalam proses pembelajaran menjadi dorongan eksternal untuk memberikan penyadaran berupa  motivasi belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran; sebagaimana salah satu fungsi  guru di sekolah adalah sebagai motivator yang senantiasa  memotivasi siswanya dalam mencapai tujuan pembelajaran berupa pencapaian prestasi belajar.

Prestasi belajar merupakan suatu proses mata rantai yang dicapai dari suatu kegiatan pembelajaran yang mencakup nilai-nilai kognitif, apektif dan psikomotor yang memberikan kontribusi perubahan prilaku, sebagaimana dalam hal ini Mohammad Surya (1985:390) berpendapat, “Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan secara sadar oleh seseorang, keberhasilan tersebut dapat dilihat dari adanya atau tidaknya perubahan tingkah laku yang diharapkan.”

Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, mungkin banyak cara menuju Roma ke arah itu dan  salah satunya melalui peningkatan kompetensi profesional guru dan peningkatan motivasi belajar siswa secara konsisten.  Guru merupakan faktor eksternal yang sangat mempengaruhi lingkungan dimana siswa belajar. Keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam memotivasi siswanya. Motivasi yang berasal dari eksternal guru ini tidak hanya berupa kemampuan verbal tetapi lebih kepada motivasi yang terpancar secara utuh dari penjabaran kompetensi guru itu sendiri.

Siswa sebagai objek dan subjek pembelajar menjadi tanggungjawab utama para guru dalam proses pembelajarannya,  selain faktor internal dirinya siswa membutuhkan faktor-faktor eksternal yang berasal dari guru dan lingkunganya sebagai penggerak dalam mencapai prestasi belajar. Dalam kontek ini Siagian (1996:38) berpendapat, ”Daya dorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengarahkan kemampuannya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan.”  Jadi, guru dengan segala kompetensinya merupakan harga mutlak dalam menyukseskan  peserta didiknya meraih prestasi belajar berupa perubahan positif dalam ranah kognitif, apektif dan psikomotornya.

Berbahagia dan semangatlah wahai para guru, karena kerja keras dan amaliah keikhlasanmu dalam tarnsfer knowledge pada generasi penerus bangsa akan dicatat sebagai tabungan pahala (passive income) yang akan memakmurkanmu kehidupanmu di duni dan akherat. Tiga perkara yang tidak akan terputus kebaikannya  adalah salah satunya ilmu yang dimanfaatkan.