Guru Care

#Cerpen oleh Riki Gransev

Hari itu Senin tanggal 17 Agustus 2015.  Meskipun hari diliburkan, namun guru dan murid tetap diwajibkan pergi ke sekolah untuk menghadiri upacara bendera. Nasionalisme, harapan yang barangkali bisa diambil dari kehadiran mereka.

Prosesi upacara bendera sudah dimulai. Dia berada pada barisan para guru, posisinya bersebrangan arah dengan para siswa. Sama-sama berdiri, tetapi ada perbedaan. Siswa berdiri di lapangan terbuka menantang panas matahari, sementara Dia bersama para guru berdiri di bawah bayang-bayang pohon bringin yang rindang.

Perbedaan ini selintas tidak adil, tetapi cukup dimaklumi; itulah bedanya guru sebagai pendidik dengan siswa yang akan dididik. Sebuah hirarki, memang, untuk menerima kenyataan kalau yang dididik harus mendapat stressing lebih dari yang mendidik, sekalipun aturannya bukan harga mati.

Langit terlihat cerah. Kondisi seperti itu memberikan ruang pada matahari untuk mulai menancapkan panasnya. Sinarnya berangsur merayap dan melahap seluruh area lapang upacara dengan pengecualian tempat di bawah bayang-bayang pohon beringin.

Rentetan acara seremonial mulai berjalan.  Acaranya terasa lama dan bertele-tele. Sementara pembacaan teks proklamasi sebagai inti acara akan dilaksanakan tepat pukul 10.00, ini berarti mereka harus berdiri kurang lebih dua jam lagi. Siapapun yang pernah menjadi murid, dengan kondisi seperti itu pasti terasa sangat menyiksa. Hal seperti itu pernah saya rasakan limabelas tahun yang lalu. Sekarang, Dia persis merasakannya pula. Tetapi dia terlalu sensitif dengan segala perasaannya. Rasa—care—yang berlebihan.

Baginya apakah perasaan itu menjadi sebuah anugrah atau bencana? Entahlah, katanya sulit dipahami. Perasaan itu sungguh bukan kesenangan di waktu senggang, atau bermalas-malasan di kursi goyang di depan fanorama alam yang memukau. Sama sekali tidak seperti itu. Perasaan itu berbeda dan aneh, “Aku merasakannya seperti penderitaan.” tegasnya lagi padaku.

Bahkan dia pernah curhat, tentang bait puisi yang pernah memprovokasinya, “A poor life this if, full of care. We have no time to stand and stare.” Ya, puisi itu Leisure. Itu sebuah judul puisi yang memprovokasinya bahwa care itu buang-buang waktu. Dia bahkan mengatakannya dengan nada ekstrim sebagai sebuah penderitaan.

Care maksudmu?”

“Ya, care!” jawabnya singkat.

Perasaan itu semacam sebuah stigma baginya. Perasaan yang sebenarnya tidak diinginkannya dan membuat dirinya merasa tidak karuan. Penderitaan orang lain seolah-olah mengalir ke dalam perasaannya, seperti ada jaringan yang tersambung kepadanya. Dirinya bagaikan sebuah bejana isolator yang sangat sensitif terhadap aliran arus listrik.

Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Terasa pening di kepala dan lemas di kaki. Pening tujuh keliling tidak tertahan, dunia terasa benar-benar berputar.  Dia melihat beberapa siswa pun merasakan demikian. Banyak siswa yang pingsan karena kepanasan. Alasan yang masuk akal. Sementara Dia tiba-tiba pingsan, padahal posisinya tidak tersentuh oleh terik matahari sedikitpun.

Dalam dirinya seolah-olah ada suara keputusan—superego—untuk menyadari bahwa profesinya adalah seorang guru yang semestinya memiliki perasaan yang halus. Perasaannya layaknya perubahan warna pada Bunglon; dia selalu merasakan seperti apa yang dirasakan muridnya. Tetapi, perasaannya yang diungkapkan padaku tidak serumit seperti apa yang kukira. Mungkin dia merasa tersiksa, atau entahlah.

Ah masa iya. Bukankah itu penyakit bawaan saja seperti epilepsi?

Dia itu latah. Atau, mungkin dia itu over acting!” ejek teman-teman sekantornya.

Perasaan care itu baginya seperti kiriman dari sejak lahir. Care terus mendesak untuk mempermasalahkan segala yang ada di luar dirinya. Sering terjadi perdebatan serius dalam dirinya.

Nak, kenapa kamu sering bolos sekolah?”

“Masuk dua hari, bolosnya empat hari!”

“Kemana saja kamu, Nak?” tanyanya.

“Nunggu rumah, Pak.” murid itu menjawab dengan nada lesu.

“Nunggu rumah. Ibu dan bapakmu kemana?”

Kerja semuanya, Pak!

Kerja dimana?

“Ibu bekerja sebagai pencuci pakaian di sebuah Rumah Sakit Jiwa di ujung kota!

“Bapak bekerja, katanya sih di terminal bus tipe A, Pak!”

“Mereka berangkat pagi sekali dan pulang larut malam!”

“Apakah orang tuamu pernah menegurmu?

“Belum pernah. Mereka sibuk dengan kerjaan. Cuek bebek, Pak!” dengan nada polos murid itu mengungkapkan kekecewaannya.

Kurang ajar, memang.” tiba-tiba suara hatinya meledak seperti suara geranat.

Tahan dulu amarahmu! Mereka pergi untuk mencari uang. Mereka mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak-anaknya.”

Kebutuhan perut tidak bisa ditawar-tawar, Bung!”

“Mau dikasih makan apa anak-anaknya? Kalau mereka hanya tinggal di rumah. Anak-anak mereka bisa mati kelaparan.”

“Ah, dasar mereka egois!”

“Kurang ajar!” nada protes itu kembali meletup dari kedalaman hatinya.

“Orangtua yang baik itu semestinya tidak hanya memperhatikan kebutuhan perut anaknya saja. Perhatian juga sangat penting. Itu makanan bagi pertumbuhan kejiwaan; kebutuhan primer.” teriak suara hatinya.

“Kebutuhan sandang dan pangan juga kebutuhan primer!”

“Sudah diam, Kau!” suara hatinya menyangkal.

“Lantas kakakmu, Sandra, ada di rumah?” tanya guru itu kepada muridnya lagi.

Tidak ada juga, Pak. Dia sering keluar rumah.”

“Sudah dua minggu tidak pulang.” jawab muridnya dengan nada murung.

Kemana kakakmu pergi?”

“Kakanya dibawa kabur oleh geng motor, Pak!” teriak sebagian para murid.

Perasaan guru dengan golongan Penata Muda III/a itu tambah berkemelut dan geram terhadap permasalahan yang dihadapi anak didiknya. Suara hatinya selalu menentang keadaan yang tidak semestinya.  Dia merasa siswa didiknya terjebak pada persoalan yang rumit. Persoalan yang tidak mudah dipecahkan dengan hanya mengandalkan perubahan kurikulum sekolah.

Itulah tugasmu sebagai guru!” suara hatinya.

Maksudmu?”

“Ya, mendidiklah!”

“Orangtuanya mungkin menitipkan anak-anaknya ke sekolah dengan harapan mereka dapat dicuci otaknya.

“Dicuci otak, apa maksudmu?”

Ya, cuci otak murid-muridmu, supaya mereka bisa tetap baik di tengah lingkungannya yang tidak normal dan tidak beres.

“Cuci otak mereka, supaya mereka tetap sopan sekalipun lingkungan di sekitarnya tidak ramah kepada mereka”.

“Cuci otak mereka……”

“Sudah, diam Kau!”

Ruang kelas terasa hening.  Waktu bergerak pagi menjelang siang 10.15 wib. Seperti biasa penciuman hidung mulai terganggu oleh keringat 30 siswa yang berjejeal di kelas itu. 30 orang siswa yang berada dihadapannya itu berarti 30 persoalan yang harus dihadapinya. Persoalan-persoalan di luar rutinitas yang lebih berat ketimbang menyusun perangkat pembelajaran.

Diantara jeda waktu itu, terlihat empat kincir angin kertas hasil unjuk kerja siswa berputar. Kincir berputar perlahan tertiup hembus angin yang menyelinap dari jendela kelas. Sebuah proses fisika sederhana—energi angin berubah menjadi gerak—Apakah itu sebuah harapan seolah memberikan isyarat padanya, bahwa masih ada harapan perbaikan jika ada kemauan.

“Care maskudmu?”

“Entahlah.” gemercik suara hatinya

Terlihat meja guru yang ada di depan kelas masih tetap dipenuhi dengan tumpukan penyelesaian administrasi.

#CerpenSantri
#SantriKreatif
#SantriAl-Ikhlash
#AlIkhlashku