Negeri Paduan Suara

Cerpen oleh: Riki, Alumni 1997

Rasa sakit terus menghujam. Baru saja dia kehilangan kesadaran karena menahan rasa sakit. Sungguh beban yang sangat berat. Dia mencoba membuka matanya. Cahaya lampu menyergap; silau namun lambat-laun sinarnya membawa penglihatan matanya semakin jelas. Nampaklah langit-langit berbentuk bujur-sangkar dihiasi lis gipsun bermotif. Kelihatan putih-bersih dan cahaya lampu mempertegas putih keasliannya. Baru saja dia membuka matanya, namun tiba-tiba dia tidak sadarkan diri kembali.

Untuk kesekian kalinya dia berada di kegelapan.  Gelap yang tidak berujung dan bertepi. Dia tidak bisa meyakinkan padaku, apakah dia berada di sebuah ruangan atau bukan.  Tidak ada batas sudut-sudutnya, tidak ada bentuk, dan pula tidak ada warna.  Dalam keadaan sadar dia hanya bisa membisikan kalimat, “Aku merasa sepi dan hening.”

”Apakah ini puncak kesakitanku? Dingin dan lembab sekujur tubuh.”

”Apakah ini akhir dari segalanya? Gelap sepanjang pandangan.”

“Degup…degup…degup…degup!”

Terdengar seperti getaran kecil menyentuh-nyentuh di dalam syaraf telinga. Dia menyadari sel-sel kesadaran dalam tubuhnya satu demi satu meredup, kecuali sel-sel syaraf telinganya saja yang tersisa dan itu pun yang terakhir.

Terdengar suara-suara mengelilinginya.

“Gombal dengan semua kepura-puraannya. Dia merasa dirinya paling ideal dan suci,” ungkapnya dalam nada Tenor.

“Ya, benar sekali,” tegas suara bernada Bariton di sampingnya.

“Sudahlah kamu berdua jangan terlalu menyudutkannya, mungkin itu prinsipnya.”

”Prinsipnya berbeda dengan prinsip kita,” tegur sura perempuan dengan suara lirih seperti nada Meso Sopran.

“Prinsip itu seperti keyakinan. Dia akan memegang teguh dan tidak akan tergiur, sekalipun kita membujuknya dengan keuntungan materi yang besar.”

“Prinsip kita itu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bukankah demikian kesepakatannya?” nada Tenor terkesan meyakinkan tujuannya

“Ya, tepat sekali.”

“Benar-benar dia tidak punya prinsip,” ejek nada Tenor.

”Sudah, cukup! Dia itu berbeda,” tegas nada Meso Sopran dengan nada sedikit tinggi.

”Prinsip menurutnya berupa pengabdian yang utuh. Tidak untuk kepentingan kelompok, apalagi hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.”

”Sebenarnya saya kagum padanya!” jujur nada Meso Sopran.

”Nyonya kagum dengan orang seperti ini. Kalau kagum, kenapa Nyonya tidak berprinsip sepertii dia?” nada Tenor sedikit menyindir.

”Sudahlah jangan kau pertanyakan. Kebenaran menurut kita adalah sebuah kesepakatan. Kesepakatan adalah mufakat, dan mufakat itu merupakan suara kebenaran. Bukankah seperti itu?”

”Benar sekali! ….Satu milyar…. buat Nyonya,” respon nada Tenor dan Bariton

”Kita harus menguatkan prinsip kita dengan nada yang sama!” jawab mereka serempak.

Terdengar gelak-tawa kegembiraan diantara mereka seperti nada-nada marsh. Suara satu, dua dan tiga berirama serentak membentuk kekuatan suara yang saling mengukuhkan, sehingga membentuk nada yang bulat dan utuh.  Tetapi, menurut pendengarannya justru suara-suara di luar tubuhnya itu bernada sumbang dan menjijikan.

Sementara udara di ruangan yang berbentuk bujur sangkar itu terasa mencekam, dingin AC menusuk pori-pori tubuh.  Infus yang tergantung di besi penyangga, tanpa lelah meneteskan air makanan untuk menyambung kehidupan baginya.

Tabung oxygen berdiri tegak dengan sabar memompakan udara melalui lubang hidung, segarnya memberikan riak kesadaran. Namun, itu semua hanya terhitung dengan jatah nafas yang terbatas. Sedikit harapan masih ada dititipkan di setiap detak jantungnya.

“Degup…degup…degup…degup.”

“Degup…degup…degup…degup.”

”Saya khawatir, dia akan membongkar rahasia kita semua,” nada Bariton mencemaskan.

”Dia selalu mengeluarkan nada sumbang. Nada sumbang akan mengganggu keharmonisan. Dan, itu artinya mengganggu kemanan kita!”

”Ya Tuhan! Jauhkanlah bencana ini,”

”Tetapi jika benar-benar terjadi, sudah dipastikan kita tidak bisa menikmati manisnya uang dan mewahnya mobil, yang ada hanya malu dan kehinaan dalam tralis besi,” keluh nada Tenor ketakutan.

”Bagaimana jadinya Nyonya?” pinta nada Bariton.

”Jangan khawatir, semuanya sudah diatur dengan rapi.”

”Tidak ada orang yang tahu jejak-jejak kita, kecuali kita dan dia.

”Kalian lihat sendiri, bukankah dia sudah tidak berdaya? Jadi kita aman.” jelas nada Meso Sopran.

Suara itu mengikis sedikit demi sedikit harapan kehidupan, menghantarkannya pada gelap. Tetapi, cahaya tetap memaksa merambat diantara celah-celah kecil, sekalipun pudar tetap membawa sedikit harapan kehidupan. Kepekaan pendengaranya kembali menyelinap di balik rongga-rongga telinga.

“Degup…degup…degup…degup,” sayup detak jantung.

”Kemarin saya menanyakan kondisinya ke ketua tim dokter yang menanganinya. Ternyata hasil diagnosanya mengatakan bahwa pingsan yang sering dialaminya akan mengakibatkan amnesia akut atau bahkan kematian.”

”Informasi ini memberikan arti penting untuk keamanan kita semua,” tandas nada Meso Sopran.

”Artinya kalau pun dia tidak mati, kita tetap akan aman karena dia tidak dapat mengingat apa-apa tentang kita. Entah syaraf apa yang rusak di kepalanya,” jelas nada Meso Sopran meyakinkan.

”Keberuntungan memihak kita.”

”Dua pilihan yang jitu; mati atau lupa selama-lamanya.”

”Kita akan selamat dan kita akan kaya!” suara Tenor dan Bariton serempak.

Riuh kemenangan dari suara-suara sumbang itu seperti nada-nada marsh yang serentak. Nadanya berirama keuntungan ratusan juta rupiah; makanan lezat di hotel super mewah dengan gula-gula perempuan cantik. Demikian juga mobil Mercy dan BMW seri terbaru menjadi nada kegembiraannya pula.

”Setahun yang lalu sebelum dia terkena penyakit dan sering pingsan, saya sudah membujuknya untuk bergabung kembali dalam kesepakatan kita. Tetapi, dia menolak mentah-mentah.”

”Dia marah besar, katanya lebih baik mati dari pada harus bergabung lagi dalam kesepakatan. Sumpah-serapah yang dialamatkan olehnya adalah penghianat.

“Siapa penghianat itu?” intrupsi nada Tenor.

“Bukannya dia sendiri yang menjadi penghianat. Menghianati kesepakatan yang telah dibuat. Bisa-bisanya dia memutar-balikan fakta,” dalih nada Bariton.

“Lantas apa lagi yang disampaikan si penghianat tengik ini?”

Suara nada Bariton terdengar keras sekali menempel di telinganya, dia memukul-mukul tempat tidur di samping tubuh yang terbujur kaku.  Terdengar gereget gigi-giginya yang beradu sehingga terdengar ngilu sekali.

“Lepaskan saja selang-selang oxygen itu dari lubang hidungnya, supaya kita cepat aman!”

“Tarik segala ucapanmu itu, tolol! Kau terlalu gegabah dengan ucapanmu. Itu namanya pembunuhan!”

“Kita perlu sedikit bersabar, menunggu sang waktu menjemputnya.”

“Sudahlah, kau bersabarlah sedikit. Lantas apalagi yang dikatakannya?” timpal nada Bariton

”Dia berdiri dari kursi kantornya, dan memaki-maki saya,” tambah nada Meso Sopran.

”Katanya, badai tidak akan pernah berakhir di negeri ini. Bukankah kita dipilih untuk mewakili suara-suara yang menitipkan segala perbaikan. Kita mengibarkan warna-warni bendera dengan panji perubahan. Kenapa kita menghianatinya?  Kemudian dia mengusir saya.”

”Demikianlah perbincangan terakhir dengannya. Tepatnya hari Senin jam 10.30 di ruang rapat komisi,” jelas nada Meso Sopran kembali.

“Degup…degup…degup…degup,” sedikit terdengar detaknya.

Sel-sel syaraf telinga mulai meredup-menyala dan meredup-menyala lagi. Sisa-sisa  kesadarannya berusaha mengingat suara-suara di luar tubuhnya. Menerka untuk mengingat siapa pemilik suara-suara sumbang itu.

Siapakah mereka sebenarnya? Kalau dia berhasil mengingat siapa mereka, tentunya kalian juga akan tahu dan kalian bisa melaporkan mereka sebagai pelaku konspirasi kejahatan.

Dia mengutarakan padaku tentang suara-suara janggal yang pernah dia simak tiga bulan yang lalu. Pada waktu itu dia lebih kelihatan sehat, mulutnya masih bisa menyampaikan informasi dengan baik. Dia mengatakan padaku persis seperti apa yang dia dengar.  Dia hanya bisa mengingat suara-suara itu dengan baik, persis seperti dia hanya mengingat baik diriku sebagai teman dekatnya.

”Sudahlah kalau dia menginginkan keluar dari kesepakatan ini, keluar sajalah. Apa pentingnya keberadaanya dalam kesepakatan ini. Toh, cuma dia satu orang saja.”

”Kesepakatan yang kita buat, dianggap absah karena jumlah suara kita sudah quorum.  Maka izin penggusuran tanah dibawah jembatan antar kota itu disepakati dengan segala konsekwensi konvensasinya.”

”Bukankah seperti itu?”

”Benar sekali, Nyonya.” jawab mereka serntak.

”Kita sudah menandatanganinya di atas materai,”

”Sah dan absah!”

”Apa yang harus kita khawatirkan?”

”Kita sudah sangat aman, karena sudah tidak ada lagi penolakan diantara kita. Kita sudah nyaman, karena sudah tidak ada lagi dua mata dan dua telinga yang mengawasi kita.

”Marilah kita bersulang.”

Inilah sabda kebenaran yang dititipkan pada cahaya, menembus gelap setebal malam tanpa rembulan. Kejahatan dan kedoliman dipahatkan dan terlihat di atas tanah kumuh milik orang-orang misikin yang digusur. Dengan izin kekuasaan dibangunlah mahligai kemewahan yang menjanjikan. Kesepakatan yang menjijikan; izin penggusuran tanah kumuh milik orang-orang miskin di bawah jembatan layang antar kota.

Menurutnya apakah kalian akan memaksa mencari sumber suara-suara sumbang itu? Tetapi dia mengkhawatirkan kalian tidak bisa menemukannya. Sekalipun menemukan suara-suara itu, bukannya bisa menangkap mereka justru kalian sendiri yang dituntut balik dengan alasan memfitnah dan mencemarkan nama baik. Itu semua karena bukti yang ada hanya berupa nada-nada suara saja.

Dia mengira, di ruang itu orang-orangnya sudah terkelompokan dalam grup paduan suara. Paduan suara yang cenderung menyanyikan nada-nada sumbang yang memiliki satu intruksi dari sang dirigen. Sang Dirigen pandai sekali dalam menyampaikan isyarat-isyarat tangan dan mengintruksikan perintah-perintah tanpa suara. Sehingga sampai hari ini belum satu pun suara-suara sumbang itu terungkap dengan jelas dan tuntas.

Inilah keterbatasan.  Dia hanya bisa meminta maaf pada kalian, karena suara-suara tersebut hanya dialamatkan dalam nada-nada Tenor, Bariton dan Meso Sopran seperti yang telah kalian dengar.

Suara yang terdengar bukanlah paduan suara marsh kemerdekaan mengusir segala bentuk penjajah seperti dalam cerita-cerita kepahlawanan.  Paduan suara   itu berupa paduan suara Diatonis Mayor, tangga nadanya mempunyai jarak antara 1 dan 1/2. Ciri-ciri nadanya bergairah, gembira dan semangat. Namun sayang, ciri-ciri nada tersebut hanya untuk mendapatkan keuntungan 1 atau 1/2 milyar rupiah saja.

Dingin AC di ruangan itu kian tidak bersahabat, menyelinap disetiap lubang pori-pori, sehinga dinginnya menyatu dengan sekujur tubuh. Dingin  yang memisahkan dari segala  hangat  kehidupan dunia.  Sudah tidak terlihat lagi air jatuh dari selang infus sebagai riak kehidupannya. Tabung oxigen sudah menyerah memompakan harapan. Dan, akhirnya dingin menyeretnya jauh kekedalaman sepi dan sunyi, tanpa sedikitpun cahaya.

”Bagaimana perkembangannya, Dok?” tanya mereka serempak dengan nada harap-harap cemas.

”Tidak bisa diselamatkan!”

”Dia sudah tiada!”

”Benar sekali kita sudah aman.”

“Si keparat ini sudah dipanggil Tuhannya!”

”Syukurlah,” ketiga suara itu serempak dengan nada bulat.

Segala gelap mengisyaratkan seluruh kesadarannya; memisahkan dari segala terang   yang penuh dengan interik-interik pelik dan manipulasi. Dia lebih memilih kehidupan yang hening dan sepi untuk menghadap sang Illahi dengan bekal kejujuran yang dimilikinya. Kejujuran itu terbungkus dengan lipatan kain putih sebagai bukti kesucian dari noda-noda dunia.  Perang telah usai meski harus diakhiri dengan sebuah kekalahan; adalah melawan musuh ketidak-adilan yang diakhiri dengan pengorbanan. Kemenangan mereka, sungguh sebagai kemenangan dari sudut mata duniawi saja. Namun, justru kekalahannya sebagai kemenangan yang sejati.

Angin menghembuskan tubuhnya dengan iring semerbak wangi melati mengantarkannya. Dia disambut dengan segala kesederhanaan rumah, tanpa disain, tanpa mode, tanpa pagar dan tanpa garasi mobil. Terbujur tubuhnya dikelilingi tangisan memanjatkan doa atas kesederhanaan dan kejujuran yang dipujanya. Sekedar itu, dia dipendamkan tanpa upacara kehormatan seorang pahlawan. Sekedar itu, dia ditinggalkan, dengan hanya alamat lahir dan kepergian tertulis di atas sebuah nisan.