Google Lepus

#Cerpen oleh: Riki, Alumni 1997

Wajar saja kalau Rusma tertinggal dari teman-teman sebayanya, karena dia adalah pemuda desa yang kesehariannya hanya bergaul dengan 50 ekor kambing milik pamannya. Namun, ketertinggalannya itu sama sekali bukan karena dia anak yang bodoh. Rusma tergolong anak yang pintar bahkan cerdas, hal itu terbukti dari prestasi yang didapatkan selama menjadi siswa Sekolah Dasar. Dia selalu mendapat ranking pertama di kelas.

Besar keinginan Rusma untuk meneruskan sekolah ke jenjang menengah, atas, bahkan perguruan tinggi. Tetapi, keinginannya itu nyaris mustahil.  Suatu waktu Rusma pernah merengek pada ibunya meminta melanjutkan sekolah, namun ibunya menolaknya, “Sudahlah Nak, kita ini orang tidak mampu, lebih baik bantu saja pamanmu menggembala kambing, sana!” ungkap ibunya singkat.

Kemiskinan telah membuat hidup Rusma dan ibunya tidak menentu. Rusma menjadi satu-satunya harapan dan tulang punggung keluarga. Dia harus membanting tulang, menopang kebutuhan hidup sehari-hari dari buruh mengembala kambing.

Padahal, bapaknya dulu adalah orang terpandang dengan kekayaan yang melimpah. Tetapi entah kenapa setelah bapaknya meninggal, semua hartanya lenyap bersama dengan kepergiannya.

Semua orang mengenal bapaknya sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Konon dia memiliki kemampuan menjalin komunikasi dengan dunia lain. Bapaknya bisa menerawang nasib seseorang, selain itu pula dia bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kesaktian bapaknya terkenal kemana-mana dan sudah menjadi satu bibir dikalangan masyarakat dengan panggilan Dukun Lepus[1].

Hampir setiap hari ada tamu datang ke rumah, baik dari kalangan masyarakat biasa sampai tingkat pejabat. Rumahnya seolah-olah menjadi pusat yang menyediakan layanan informasi masalah-masalah kehidupan dari tingkat receh sampai berat.

Doktrin-doktrin kesaktian bapaknya sering diceritakan oleh ibunya, sebagai kebanggaan dan kehormatan keluarga.

“Kamu memiliki keturunan darah kesaktian, Rusma!”

“Bapakmu telah mewariskan benda sakti padamu.”

“Dimana kamu simpan benda sakti itu?” ibunya sering menanyakan benda keramat peninggalan suaminya.

“Ada di kamar, Bu.” jawabnya singkat.

“Kamu harus menjaga benda keramat itu dengan baik.”

“Kelak kamu bisa meneruskan kesaktian bapakmu!”

“Benda keramat itu memiliki kemampuan luar biasa. Jika kamu bisa mengolahnya, kamu bisa mengetahui segalanya.”

“Oh ya, dimana tepatnya kamu menyimpan benda keramat itu?” tegas ibunya kembali.

“Di dalam lemari, di dalam kotak hitam dan terbungkus dengan kain hitam!” jawabnya.

“Syukurlah kalau seperti itu.”

“Harus kain hitam, sebagaimana pesan dari bapakmu.”

Rusma adalah anak yang baik, dia sangat menghormati ibunya walaupun apa yang dikatakan ibunya sangat bertolak belakang dengan suara hatinya. Sebenarnya dalam hati kecilnya sering terjadi ledakan protes, “Kenapa aku tidak seperti pemuda yang lain? Mereka mengenyam pendidikan di berbagai Perguruan Tinggi di kota besar. Aku hanya penggembala kambing. Apakah ini takdirku?” ungkapnya. Ledakan protes berlangsung hampir lima tahun. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk ukuran menahan tekanan kejiwaan. Bersyukurlah Rusma memiliki mental yang tangguh, dan dia tetap bertahan dan bersemangat.

“Saya harus menentukan nasib saya sendiri.”

“Saya harus belajar dengan gigih untuk memahami dan menggunakan benda sakti itu!”

“Saya harus tahu segalanya!” teriak Rusma, seraya mengangkat kedua tangannya dengan wajah menghadap ke langit.

Rusma tidak menyadari dirinya sedang berada diantara kerumunan kambing. Sikapnya yang aneh, sontak membuat kaget para petani yang sedang menggarap sawah. Salah seorang petani yang berdiri tidak jauh darinya berbicara dengan nada marah.

“Apa yang kamu lakukan, Rusma! Kamu berbicara dan berteriak sendiri pada kambing-kambingmu.”

Rusma hanya melirik pada petani itu, tanpa jawaban dan komentar. Dia bergegas menggiring pulang kambing-kambingnya.

Selama di perjalanan Rusma terus berpikir, mencari cara; bagaimana mendapatkan uang untuk mendapatkan benda yang diinginkannya. Uang yang tiap hari dia tabung tidak akan cukup walaupun dia kuras semuanya. Seiring dengan langkah kambing yang berjalan tepat di depannya, Rusma pun tersenyum.

“Nah, kamu Jalu jawabannya!” Rusma menepuk seekor kambing yang paling besar. Kambing yang dipanggil Jalu itu mengembik, seolah-olah mengerti apa yang diinginkan Rusma.

“Baiklah saya akan menemui tuanmu, dan dia adalah pamanku juga.”

“Saya akan meminta izin untuk menjualmu Jalu sebagai imbalan kerja selama ini”

“Saya sudah tidak sabar untuk mempelajari benda sakti itu!”

Setelah   disetujui oleh pamannya, keesokan harinya Rusma langsung menggiring si Jalu untuk dijual.  Hari itu tepat jatuh hari Selasa sebagai poe[2]  pasar Ciputat Ciawigebang, dan biasanya pada hari itu bandar kambing dari tiap desa tumplek semua. Benar saja, tanpa harus menungggu lama, si Jalu yang bertubuh tambun dan gagah itu langsung diserbu oleh para juragan kambing. Rusma melakukan transaksi jual beli. Dia melakukan tawar-menawar dengan para juragan kambing. Tanpa menunggu lama, salah seorang juragan kambing berani membayar sesuai dengan harga yang diinginkan Rusma.”

Setelah mendapatkan uang, Rusma pergi menuju terminal angkot yang jaraknya tidak jauh dari pasar kambing. Rusma bergegas naik angkot jurusan Ciawigebang-Kuningan, karena menurut informasi teman-temannya, benda sakti yang memiliki kemampuan luar biasa tersebut hanya ada ditempat-tempat tertentu di pusat Kota Kuningan.

“Kami bisa mengetahui segala hal dengan menggunakan benda ini.” jawab teman-teman kampung sebelah, ketika Rusma dengan segala penasarannya bertanya kepada mereka.

Apalagi ketika mereka mengatakan, “Kami bisa menjadi orang pintar hanya dengan satu sentuhan.” itulah yang membuat dirinya tidak sabar untuk segera memilikinya.

Bahkan suatu waktu Rusma tidak pergi menggembalakan kambing pamannya selama seminggu. Dia bermalam di salah seorang temannya hanya untuk memahami dan mendalami benda yang sangat luar biasa kemampuannya itu.

Sekarang, benda sakti itu sudah digenggamannya, bergegas dia pulang. Satu benda berbentuk pipih persegi panjang dan satunya lagi benda kecil hitam berukuran sebesar jari jempol. Kedua benda tersebut berada dalam kotak hitam.

Pukul 13.00 ba’da dzuhur, Rusma sampai di rumah dan dia langsung masuk kamarnya, mengunci pintu kamar rapat-rapat. Rusma meletakan benda-benda itu tepat disamping kotak hitam keramat bapaknya yang berada di dalam lemarinya.

Setelah shalat dzuhur, Rusma hendak beristirahat dan tidur, karena rasa kantuk yang tidak tertahan. Namun belum sempat dia membaringkan tubuhnya, ibunya sudah terdengar datang dan mengetuk pintu kamarnya.

“Nak, ini ibu sudah datang bersama pasien yang pernah ibu bicarakan tiga hari yang lalu.”

“Pasiennya sudah tidak sabar, ingin segera meminta tolong pengobatan kepadamu, Nak!”

“Semua sendi jari-jari tangannya membengkak, katanya terasa sakit luar biasa.”

“Istrinya mengatakan, penyakit suaminya datang berawal dari sebab dia menebang pohon besar dibelakang rumahnya tepat hari jumat keliwon.”

“Lain pula dengan alsan anaknya. Bapakanya sakit karena dia terlalu banyak mengkonsumsi pete dan kacang-kacangan.” papar ibunya.

“Ini kesempatan bagus untuk membuktikan kemampuanmu.  Mereka sudah tahu, kamu adalah satu-satunya pewaris tunggal kesaktian bapakmu sebagaimana mereka meyakininya.” bisik ibunya kembali dari celah-celah pintu kamar.

Sebenarnya hati kecil Rusma menolak sikap ibunya yang berlebihan. Namun, Rusma tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi ibunya sering mengatakan, “Ini demi kehormatan keluarga. Kamu harus bisa menjaga kehormatan mendiang bapakmu.”

“Sebelum kamu menggunakan benda keramat itu, jangan lupa kamu harus melakukan ritual yang pernah ibu ajarkan. Menurut bapakmu, benda sakti itu akan mengeluarkan energi kekuatan yang menakjubkan!”

“Pasti kamu bisa berkomunikasi dengannya. Tanyakan cara apa yang jitu untuk menyembuhkan penyakit aneh pasien pertamamu ini!”

Tanpa berpikir lagi, Rusma langsung mengambil kotak hitam dari lemarinya. Meletakanya di atas meja dengan arah berhadapan.

Setelah benda sakti teraliri dengan energi yang kuat. Rusma kemudian berkonsentrasi penuh memasuki ruang-ruang informasi. Ruang itu dipenuhi dengan warna-warni cahaya. Ibunya pernah mengatakan bahwa ruangan itu adalah dunia alam gaib. Dunia dimana dulu suaminya berkontemplasi mencari dan meminta informasi penyembuhan.

Benar-benar luar biasa benda sakti itu, Rusma memasuk ruang mediasi yang penuh dengan simbol-simbol. Jari-jemarinya hinggap di setiap kumpulan angka-angka dan huruf-huruf Alpabet. Jari-jarinya bergerak tanpa henti dengan energi penuh dalam kekuatan, sensor, tranduser, koneksi, transmisi, prosesor, signal, dan kontroler. Cahaya itu berenergi tinggi memiliki kecerdasan luar biasa. Membuka mata rusma pada miliaran informasi yang menakjubkan.

Rusma tidak kuasa menahan mulutnya untuk mengutarakan aliran informasi yang mengalir begitu deras dan akurat, persis seperti datangnya rombongan muse masuk kedalam otaknya

 

“Penyakit itu Asam Urat!”

“Asam urat atau artritis gout merupakan senyawa heterosiklik karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen.

Asam urat terbentuk jika sisa zat dalam tubuh yang kita keluarkan, memecah suatu zat yang disebut

purin. Purin terlarut dalam darah dan mengalir ke ginjal. Purin dibuang keluar dari tubuh dalam bentuk

urine.  Asam urat pada awalnya tidak berbahaya. Namun jika terus menumpuk dalam tubuh akan

menyebabkan asam urat tidak bisa dibuang atau dikeluarkan yang akhirnya menumpuk dalam tubuh

dan berkonsentrasi pada persendian. Sendi yang terserang akan terasa sakit, nampak membengkak,

merah, panas, nyeri di kulit, sakit kepala dan tidak nafsu makan.”

 

“Apa yang kamu ucapakan itu akurat, dengan apa yang dirasakannya.” ujar ibunya girang.

“Apa penyebabnya, Nak?”

 

Rusma menggerakan jari-jemarinya kembali mencari informasi.

“Penyebab penyakit Asam Urat!”

Jeroan: ginjal, limpa, babat, usus, hati, paru dan otak. Seafood: udang, cumi-cumi, sotong, kerang, remis, tiram, kepiting, ikan teri, ikan sarden.”

“Ekstrak daging seperti abon dan dendeng. Makanan yang sudah dikalengkan (contoh: kornet sapi, sarden). Daging kambing, daging sapi, daging kuda. Bebek, angsa dan kalkun.”

“Kacang-kacangan: kacang kedelai (termasuk tempe, tauco, oncom, susu kedelai), kacang tanah, kacang hijau, tauge, melinjo, emping.”

“Sayuran: kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur kuping, daun singkong, daun pepaya, kangkung.”

“Keju, telur, krim, es krim, kaldu atau kuah daging yang kental.”

“Buah-buahan tertentu seperti durian, nanas dan air kelapa.”

“Dan makanan yang digoreng atau bersantan atau dimasak dengan menggunakan margarin/mentega. Makanan kaya protein dan lemak!”

 

Benda keramat itu sudah mulai menjelma dalam dirimu. Rusma, kamu persis seperti bapakmu.”

“Akurat.” respon ibunya dari celah pintu kamar.

“Terus, Nak! Kesaktianmu mulai nampak. Tanyakan ramuan dan cara pengobatnnya, Nak!”

Jari-jemari Rusma terus menari-nari dengan gesit dan trengginas di atas kumpulan huruf-huruf Alpabet.

 

“Pengobatan Asam Urat!”

“Ramuan I:
Bahan: 5 butir kapulaga, 5 butir cengkeh, 15 gram jahe merah, 1 jari kayu manis, 5 gram biji pala, 10 butir lada, 200 gram ubi jalar merah, 1000cc air bersih. Cara pengobatan: Semua bahan direbus dalam 1000cc air hingga tersisa 500cc. Lalu disaring dan minum airnya. Sementara ubi jalarnya dimakan.”

Ramuan II:
Bahan: 5 butir kapulaga, 15 gram jahe, 5 butir cengkeh, 10 butir lada, 5 gram biji pala, 1 jari kayu manis, 5 gram bangle, 400cc air bersih.
Cara pengobatan: semua bahan direbus dalam 400cc air hingga tersisa 200cc. Kemudian airnya disaring dan setelah dingin diminum.

 

“Luar biasa kamu, Nak. Kemampuanmu melebihi bapakmu!”

“Benda itu benar-benar sudah menjelma dalam dirimu!”

“Benda keramat!”

“Benda sakti!”

“Akurat.” teriak ibunya kegirangan.

“Klik-klik…klik-klik…klik-klik.”

“Suara apa itu, Nak?”

“Suara dari alam ghaib, Bu!”

Karena rasa cape dan kantuk sudah tidak tertahan, Rusma bersegera tidur siang.

 

 

[1] Dukun lepus merupakan istilah yang digunakan untuk orang yang memiliki kemampuan supranatural, orang pintar dalam ilmu magis, orang pintar dalam pengobatan tradisional, orang pintar dalam menagani si sakit dengan mantra dan jampi-jampi.

[2] Hari dalam Bahasa Sunda