Bijak Mengisi Waktu

Disadur dari Muqoddimah Pimpinan Pondok pada Acara Kuliah Umum tentang Etiket Menjelang Liburan

Alhamdulillah pada hari ini kita bisa berkumpul dalam rangka kuliah umum sebagai pembekalan untuk liburan setelah satu semester belajar bersama. Dan mudah–mudahan apa yang didapat dalam satu semester ini bermanfaat dan bisa menjadi bekal untuk langkah– langkah selanjutnya. Dan kesyukuran kita jika kalian bisa mengikuti ujian, kalau nilai hasil ujian itu ada yang bagus dan ada juga yang kurang bagus tapi itu wajar karena yang bagus itu tidak ada kalau tidak ada yang tidak bagusnya, tapi kalau ada yang tidak bagus pasti ada yang bagusnya.

Untuk sekarang kita akan berbicara tentang كيفية إملاء أو إستفادة أيَام العطلة (Kaifiyatu Imlaa’i aw Istifaadati ayyamil ‘Utlah). Kita ini manusia, maka kalaulah kita ini sudah jadi manusia marilah kita membina diri, membekali diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Itu merupakan sebuah perjuangan yang harus dilalui. Dan segala usaha kalian di pondok ini adalah salah satu bentuk perjuangan yang kalian kerahkan untuk mencapai pribadi–pribadi yang lebih baik, dalam kata agamanya ada متَقين (Muttaqiin) ada متخلَق بأخلاق الكريمة (Mutakholliq bi Akhlaaqi Al-Kariimah) menjadi orang yang bertaqwa dan menjadi orang yang berakhlak baik.

Ciri–ciri kebaikan itu adalah semua orang menerima, jadi sifatnya universal. Maka jika kamu baik seluruh dunia akan mengatakan kamu baik dan jika kamu tidak sopan maka seluruh dunia akan mengatakan kanu tidak sopan. Karena nilai kebaikan itu diakui oleh seluruh orang di dunia dan itu namnya nilai universal. Kalau ada yang menyimpang itu bukan berarti kebaikannya yang berubah karena dia juga tau bahwa itu salah cuman dirinya yang ada penyakit atau dalam hatinya ada penyakit  في قلوبهم مرض. Kalau yang namanya di hatinya sudah berpenyakit فزادهم الله مرض  maka Allah tambah lagi penyakit dalam hatinya jadi kalau ada yang merusak itu memang في قلوبهم مرض.

Orang yang berkualitas itu biasanya punya rancangan, punya pedoman yang dipakai untuk dirinya. Contoh kecilnya kalau libur, mesti dia rancang kegiatan apa saja yang harus dia lakukan ketika berlibur. Ada juga yang mengisi waktu liburnya dengan berkarya atau membuat tulisan.

Apa yang kita lakukan ini adalah demonstratif, kita menunjukan kepada dunia bahwa kita punya gaya pendidikan sendiri dan nyatanya setiap yang datang ke pondok ini selalu mengatakan bagus, luar biasa, itu artinya demonstratif yang kita tunjukan kepada orang-orang memang pantas dan diakui bagus dan itu adalah bentuk protes kita.

Yang ingin dicapai oleh suatu pendidikan itu adalah perbahan sikap. Apa artinya pendidikan kalau tidak merubah sikap ke arah yang lebih baik, makanya kita tidak mau untuk diatur oleh yang kurang baik dan ini semua bentuk protes kita terhadap sistem pendidikan yang kurang baik sehingga kita buat sistem yang sesuai dengan cita – cita pendidikan yaitu perubahan sikap dari yang tidak baik menjadi baik.

Di pondok kita ini anak yang semula belum bisa baca Qur’an tapi setelah lulus dia bisa itu berarti dia mengalami perbahan. Dan itu berarti seluruh ustadz dan pengurus organisasi itu bekerja sehingga hasilnya nampak, dan itu semua namanya pendidikan.

Manusia itu ada yang bisa maju karena mempertahankan citra dirinya karena dia dianggap bisa akhirnya dia berusaha mati–matian untuk bisa, makanya di Al-Ikhlash ini nilai itu tidak terlalu diperhatikan artinya nilai ketika di pondok itu bukan segalanya karena yang nilai di pondoknya rendah tapi ketika diluar nanti dia berkembang.

Menajdi pribadi yang terpuji itu selain karena kita belajar juga karena faktor do’a, diantara metodelogis do’annya itu adalah shalat di malam hari dan shalat di malam hari itu punya nilai plus berbeda dengan yang tidak shalat malam artinya di saat yang lain tertidur dia terbangun, maka إعملو فوق ما عملوا (i’maluu fauqo maa ‘amiluuu).