Perubahan Dalam Hidupku

#Cerpen Oleh: Zaakyah Siswi kelas VI TMI Al-Ikhlash

Hari ini, tepat pada tanggal 15 Juli aku dan keluargaku pergi ke sekolah berasrama bernama Pondok Pesantren. Setelah lelah menolak keputusan Ayah dan Bunda, akhirnya aku menerimanya walaupun dengan sangat terpaksa.

Sesampainya di pondok, aku disambut oleh kakak-kakak panitia penerimaan santri baru yang segera membawaku untuk mengkuti tes masuk ( lisan & tulis ) sedangkan Ayah dan Bunda mengurusi administrasi pendaftaranku di pondok ini. Setelah semua persyaratan pendaftaran tepenuhi Ayah & Bunda serta kakakku pamit pulang, meninggalkanku disini, sekolah yang sama sekali tak pernah terbayang dalam benakku.aku tak sedih, pun tak menangis, sama sekali. Untuk apa? Toh mereka juga tega menyekolahkanku di tempat yang terletak sangat jauh dari rumah. Ah, aku tak habis pikir, mengapa mereka menyekolahkanku dipondok ini? mengapa tidak di SMA Favorit saja? Entahlahh.. aku tak peduli lagi.

Ketika aku memasuki asrama, ternyata telah ada 11 orang perempuan didalam sana, tentu saja yang akan menjadi temanku selama di pondok. Yang pertama menghampiriku bernama Cecil, ia datang dari Jakarta, entahlah kenapa ia jauh-jauh bersekolah disini, mungkin sama sepertiku, dipaksa. Kami pun saling berkenalan satu sama lain, perkenalan yang kaku, karena aku tak benar-benar berniat untuk berkenalan bersama mereka.

Sejak hari itu, hidupku tak sama lagi. Tak ada lagi keceriaan dan kesemangatan seperti biasanya. Aku memang tak lagi marah pada ayah dan bunda karena keputusan mereka. Tapi, aku pun tak berniat untuk belajar dengan baik. Hari-hari kujalani bersama teman-teman baruku yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan-kegiatan di pondok benar-benar padat, terkadang membuatku jenuh, tapi terkadang membuatku melupakan sebagian ingatanku tentang masalahku walau hanya sesaat.

Waktu melesat cepat, tak terasa sudah hampir setahun aku disini, menemukan berbagai hal yang benar-benar baru kutemukan disini, menjalani ujian yang amat sangat berbeda dengan ujian di sekolah-sekolah lain, juga suasana belajar yang berbeda. Tapi entahlah, semua itu tak berarti apa-apa bagiku. Karena aku tak benar-benar hidup didalamnya dan menikmatinya, aku hanya merasa seperti sedang menumpang hidup, tanpa melakukan hal berarti. Lagian, Bunda pernah berkata “ cobalah dulu selama setahun, kalau Resti tidak betah juga, maka Resti boleh pindah,” dan karena perkataan Bunda itulah aku menyetujui keputusan mereka, walau dengan terpaksa. Dan disinilah aku sekarang, berharap-harap senang karena sebentar lagi ujian akhir akan di laksanakan dan itu berarti waktu percobaanku disini akan habis sebentar lagi.

Ah.. aku tak sabar. Aku ingn cepat-cepat pindah dari sekolah ini, aku ingin dekat dengan Bunda, aku ingin sekolah di SMA Favorit seperti kebanyakan teman-temanku. Setelah ujian akhir nanti, aku akan segera meminta pindah pada Bunda. Aku tak peduli bagaimana reaksi mereka, seperti tak pedulinya ketika mereka merasa kecewa ketika melihat nilai raportku semester yang lalu yang hanya kujawab bahwa itu karena semua pelajaran disini baru semua dan kebanyakan berbahasa arab. Toh selama ini aku memang tak benar-benar belajar disini. Aku memang tak peduli akan naik kelas atau tidak.

Kerjaanku setiap hari, ketika teman-teman sibuk dengan kegiatan mereka dalam segala ekstrakulikulernya, aku hanya bersantai di depan kamar, atau terkadang di dalamnya. Seperti sekarang, aku sedang bersantai di kamarku, melamun, hingga tiba-tiba Cecil datang dengan agak tergesa dan memberitahuku bahwa keluargaku datang menjenguk. Lalu aku pergi ke ruang tempat penerimaan tamu dengan agak bingung, bukankah sebentar lagi liburan akan tiba? Kenapa aku dijenguk sekarang? Kan baru minggu kemaren aku dijenguk, mengapa mereka datang lagi, apa aku akan dibawa pindah sekarang? Jika ia, aku akan sangat senang sekali.

Sesampainya di ruangan, aku menemukan kakakku sedang duduk dikursi, eh, tapi mengapa hanya ada kakak, apa ia datang sendiri? Entahlah, aku pun segera menghampirinya.

“ kakak..”

“ ah, Resti, kau sudah datang,”

“ ia kak, kakak sendirian ke sini?”

“ tidak, kakak bersama Ayah, tapi Ayah sedang di kantor, meminta izin untuk membawamu pulang..”

“ wah,, Resti bakal pulang kak? Asiik, nanti Resti mau siapkan buat daftar ke SMA ahh..” aku memotong perkataan kakak ketika mendengar bahw Ayah sedang izin.

“ kamu masih tidak mau bersekolah disini de? Kenapa, apa tempatnya tidak nyaman?”

“ lohh, kok kakak malah balik nanya, ialah Resti gak mau disini. Kejauhan, Resti mau disana saja, supaya deket sama Bunda. Kan emang dari awal Resti gak mau disini..”

Kulihat kakak hanya menghela nafas mendengar jawabanku, tapi sekali lagi, aku tak peduli.yang penting aku harus sekolah di kotaku saja, yang dekat dengan rumah, dengan Bunda. Eh ia, kok bunda tidak ikut. Aku tiba-tiba teringat dan bertanya pada kakak “ eh kak, Bunda tidak ikut?”

“akhirnya kamu bertanya juga Res”

“emang kenapa kak? Kemana Bunda?”

“ itulah Res, Ayah akan membawamu pulang bukan tanpa alasan, apalagi untuk mendaftarkanmu kesekolah lain, Ayah akan membawamu ke rumah sakit, Bunda ada disana, semenjak pulang dari menjengukmu..”

“kak,,Bunda…”

“ ssst jangan dipotong dulu perkataan kakak,, sekarang kakak Tanya, apakah Resti tahu apa alasan Ayah dan Bunda menyekolahkanmu ke pondok ini?”

“supaya aku jauh dari mereka?supaya aku belajar agama?belajar mandiri? Entahlah,, Resti tak tahu pasti kak..”

Kakak tersenyum mendengar jawabannku,lalu menggeleng. “ untuk belajar tentu saja itu salah satu alasannya, tapi agar kau jauh dari mereka itu tak benar, Bunda juga tak ingin berada jauh darimu dan sebenarnya ia sangat khawatir, tapi Bunda tidak mau kau melihantnya kesakitan, dan itu alasan utamanya. Sebenarnya sudah semenjak kamu kelas 3 SMP Bunda terserang peyakit jantung, tapi Bunda tak pernah menunjukannya dihadapan kita, kakak pun baru tahu setelah tak sengaja menemukan Bunda terbaring di ruang tamu. Bunda tak mau melihat kita bersedih dengan keadaanya. Maka setelah kau lulus, Bunda merajuk agar Ayah menyekolahkan kamu ke pondok saja, yang jauh dari rumah agar kamu juga menjadi mandiri, karena takut jika Bunda tak punya banyak waktu lagi untuk mendidikmu dan tak mau melihatmu bersedih jika tau kalau Bunda sakit, Bunda berharap kamu akan tumbuh mandiri, mengerti agama, dan berakhlakh yang baik.”

Aku terkejut mendengarnya, dan tak kuasa menahan air mata, “ terus,,terus, Bunda gimana sekarang kak?”

“ Bunda sangat kritis, maka dari itu, Ayah langsung menjemputmu, walaupun Bunda tak mengizinkan karena kamu akan menghadapi ujian, Bunda takut fokusmu terganggu. Tapi Ayah takut, kami takut, takut ibu tak punya banyak waktu lagi, kemarin pun ketika menjengukmu, Bunda memaksakan diri karena ia ingin bertemu denganmu, dan setelah itu Bunda berada di rumah sakit hingga sekarang”.

Lalu kulihat Ayah sudah datang dengan membawa surat jalan. Melihatnya, tangisku semakin menjadi-jadi, lalu kupeluk Ayah “ Ayah,,Bunda yahh…”

“ sabar ya nak, yuk kita ke mobil, langsung ke rumah sakit”.

Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti ayah menuju mobil.

***

Dirumah sakit, dokter yang menangani Bunda Resti sudah tak sanggup lagi karena penyakitnya semakin parah, dan berharap keluarganya segera datang untuk menemuinya terakhir kali.

Tak lama kemudian aku, ayah dan kakak sampai di rumah sakit tersebut dan kami langsung menuju kamar Bunda. Ketika melihat manusia yang terbaring di ranjang dan aku sadar bahwa itu memang Bunda, aku tak kuasa menahan tangis. Jika setahun lalu aku memang pernah marah pada Bunda karena keputusannya, memang aku marah, tapi aku tak membencinya, justru aku marah karena aku tak ingin jauh dari Bunda, aku ingin selalu dekat dengan Bunda.

Kulihat Bunda baru saja membuka matanya,dan melirik kea rah kami.

“ Bunda……Bunda maafkan Resti Bun,..”

“ Resti,,Kau datang nak…”

“ia Bun..ini resti..Bunda..Resti minta maaf, Resti sudah menyia-nyiakan waktu Resti hanya karena Resti marah..Resti tidak tahu keadaan yang sebenarnya..maafkan Resti Bun…”

“ sudahlah nak,,Bunda tak pernah marah sama kamu, tapi berjanjilah sama Bunda, kamu akan belajar sungguh-sungguh nanti, Bunda ingin kau menjadi anak yang shalehah, baik-baik ya nak..maaf jika keputusan Bunda membuatmu bersedih..”

“Bunda..”

“Bunda juga minta maaf tidak bisa mendidikmu lebih lama lagi. Turuti apa kata Ayah dan kakakmu ya nak. Kamu harus sekolah di pondok itu sampai selesai. Apapun rintangannya Bunda yakin kamu bisa…”

“ Bunda jangan ngomong kayak gitu…ia bunda..Resti akan perbaiki segalanya..Resti tiak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan selama setahun kemarin.. tapi Bunda harus bangun..Bunda harus liat Resti lulus…”

Kulihat bunda hanya tersenyum dan membisikan sesuatu.

“ maafkan Bunda. Bunda sayang Resti, Bunda sayang kalian semua..Bunda pamit”

“Bunda…hiks…hiks… Resti juga sayang Bunda..hiks..hiks…”

Akhirnya, aku hanya bisa menatap mata Bunda yang tertutup, tertutup untuk selamanya. Aku pun merasa sangat lemas, sempat kulihat Ayah menghampiriku dan kakak yg sedang menangis memeluk tubuh Bunda hingga aku tak merasakan apapun lagi, aku terjatuh, pingsan.

Ketika aku siuman, kulihat sekeliling, ternyata ini dikamarku. Ada kakak disampingku yg memberitahu bahwa Bunda sudah dikebumikan karena jika menungguku siuman terlalu lama. Aku tak jadi marah karena tak ikut ke makam setelah mengetahui bahwa aku pingsan hampir seharian.

***

Seminggu semenjak kejadian itu, ulangan akhir tahun pun tiba. Kini aku sudah di pondok sejak 5 hari yang lalu. Aku kembali dengan sisa-sisa kesedihan karena ditinggal Bunda, tapi aku pun kembali dengan pemhaman yang baru. Kini, aku mengerti..atas apa yang terjadi padaku, atas apa yang Ayah dan Bunda putuskan untukku ialah memang yang terbaik. Aku menyesal, kenapa aku tak mengerti sejak dulu, hanya sibuk marah sana marah sini, aku menyesal..tlah menyia-nyiakan waktu selama setahun disini. Aku tlah salah menilai keputusan itu.. mulai sekarang, aku akan tetap disini, seperti kemauan Bunda, dengan segenap hatiku, aku akan berusaha sebaik mungkin disini.

Semenjak itu, hidupku berubah, untuk yang kedua kalinya. Tetapi kali ini, menjadi lebih baik.

“ Baiklah…bukankah semua orang berubah? Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan menjadi pribadi baru, dengan semangat baru, dan niat baru, yang lebih baik. Baiklah Bun, aku akan mencoba. Untuk Bunda, untuk Ayah, untuk kakak, dan untuk diriku sendiri. Dimulai dari ujian ini,” tekadku dalam hati.

#CerpenSantri
#SantriKreatif
#SantriAl-Ikhlash
#AlIkhlashku