Mengomunikasikan Pesan Gaya Santri

Ketika diminta memberi pengantar buku yang ditulis oleh Aep Saepudin Zufri saya coba membaca beberapa bagian, ternyata mengasikan. Kesan saya waktu itu langsung memberi acungan jempol, ini buku bagus. Zufri telah mampu mengomunikasikan kehidupan pesantren –yang selama ini dialaminya—kepada khalayak dengan apik dan memiliki gaya tersendiri. Pengakuan ini juga terlontar dari Kanda Irfan penulis serial Kisah Ahung Sang Mualaf saat saya bertemu di Jakarta, dia sampaikan bahwa Zufri menulis buku, dengan nada semangat dan intonasi yang khas dia sampaikan: “Eh Ncek menulis buku itu, bagus itu buku, saya lihat bagus dan perlu dibaca.” Ungkapnya.

Mudah-mudahan paragraf si atas tidak membuat penulisnya GR karena apresiasi yang kita berikan, tapi memang kita harus berusaha jujur juga dalam menilai sebuah karya, apalagi bagi penulis pemula yang mencoba berkarya.

Pesantren dengan segala aktivitas yang ada di dalamnya memang tidak habis-habisnya digali untuk dipahami dan dikomunikasikan kepada orang banyak. Mulai dari para ahli sampai para peneliti dengan berbagai latar belakang keilmuan yang dimilikinya mencoba mendeskripsikan pesantren bagi sebagai sebuah lembaga pendidikan maupun sebagai institusi sosial.

Dalam konteks ini Zufri mencoba mengomunikasikan berbagai pengalaman berharga yang ditemuinya di pesantren selama menjadi santri hingga masa pengabdian sebagai ustadz dengan gaya penyajian yang cukup rileks.

Topik-topik yang dipilih menunjukkan penekanan pada pesan yang ingin dikomunikasikan kepada kaum muda dalam proses pembentukan kepribadian dengan tanpa berusaha menggurui, laksana seorang penutur yang mencoba bercerita tentang suatu kejadian dengan semangat menafsirkan makna dari berbagai kejadian yang ditemuinya. Metodologi dialogis yang dipakai pada setiap mengawali tulisannya juga cukup menarik,  sekaligus menyempurnakan gaya penyampaian pesan dengan sentuhan akal pikir dan rasa.

Walaupun demikian gejolak muda tetap nampak dalam pemilihan kata-kata serta judul-judul yang dikedepankan, semangat membangun diri, mengangkat citra serta membina generasi terasa bagaikan motivator yang sedang bergaya di hadapan khalayak dengan semangat kemandirian, mencoba membangunkan para kesatria yang sedang tidur untuk terus maju, maju dan berkembang.

Adapun konten yang ingin disampaikan merupakan himpunan hasil rekaman Zufri dari kehidupan pesantren serta beberapa nara sumber dari lintas pesantren dan kiai yang sempat dia dengar atau berbagai pertemuan yang pernah dia ikuti. Semua dicoba dikawinkan dengan hasil bacaannya tentang kewirausahaan dan teori-teori bisnis yang didapatnya belakangan. Hanya saja dalam pemilihan istilah mungkin ada yang terdengar asing serta dapat dipahami jika pembaca mengenal sisi kehidupan pesantren. Namun hal tersebut tidak terlalu mengganggu, karena penjelasan akan segera didapat ketika mulai membacanya.

Wal akhir jika Anda seorang santri atau ingin bermental santri, buku ini baik untuk dibaca./M. Tata Taufik

Al-Ikhlash

Rabu, 23 Agustus 2017