Tell The Audience Story

Oleh: M. Tata Taufik

Ketika membaca judul buku yang ditawarkan penerbit untuk diberi kata pengantar, terbayang betapa serunya isi buku tersebut, sambil menduga-duga apakah ia merupakan kisah nyata atau novel atau karya sastra lainnya. Tapi ketika sudah melihat daftar isi apa yang terbayang di benak penulis menjadi buyar semuanya. Ternyata tulisan yang nampak vulgar ini tidak seperti isinya. Buku ini akan lebih tepat jika disebut kumpulan cerita hikmah yang berisikan tuntunan atau kisah-kisah bijak. Tapi itu pun tidak begitu tepat karena pada beberapa kisah berisikan kisah-kisah yang terkandung dalam Quran, sehingga pantas disebut kisah-kisah dalam Quran (al-qhasash fi al-qu’ân) seperti yang biasa ditulis para pemerhati kisah-kisah dalam Quran. Ujungnya sebutan itu pun kurang tepat, karena banyak juga kisah-kisah yang disadur dari hadis nabi SAW dan sunahnya serta sirahnya. Dari cerita lain akan ditemukan juga kisah para sahabat, sehingga bisa disebut –meminjam judul sebuah buku– Hayâtu Shahâbah  sebuah karya Maulana Muhammad Yusuf Kandhalavi Sharh yang populer itu.

Alhasil buku yang ditulis oleh sosok humoris yang secara pribadi penulis kenal ini menampilkan banyak kisa-kisah lama; kisah-kisah yang secara seharian kita sering dengar melalui ceramah atau dari buku-buku cerita hikmah semacam kisah teladan. Paling tidak buku ini bisa menjadi file baru untuk “mengamankan” cerita-cerita tersebut dari kemusnahan.

Dalam metode dakwah memang penyajian kisah selalu menjadi pilihan untuk menanamkan pesan kepada khalayak tanpa harus menggurui, seperti yang diketahui bersama bahwa Quran juga sebagian besar dari isinya berupa kisah bangsa-bangsa dan kisah perorangan. Beberapa aktor seperti nabi Yusuf as, Musa as, Sholeh as Ibrahim as dan lainnya menjadi tokoh ideal dalam kisah tersebut. Sebagaimana disajikan juga tokoh antagonis seperti Firaun, Qorun dan lainnya. Pentingnya penyajian kisah juga diakui oleh para komunikator modern, dalam teknik presentasi misalnya Rachel Willis dari virtual studio.tv yang menyatakan bahwa langkah sukses presentasi ke 9 adalah tell a story; tell the audience story!

Metodologi penulisan dimulai dengan penyajian kisah kemudian diakhiri dengan ibrah sebagai usaha untuk menuntun pembaca kepada alur pesan yang ingin disampaikan sang penulis kepada khalayak pembacanya dapat dikatakan sebagai usaha cerdik; dengan asumsi bahwa pembaca sudah mengenal kisah-kisah yang disajikan, namun akan tertarik juga untuk melirik pandangan penulis buku tersebut terhadap kisah tadi. Hal ini biasa dilakukan penulis modern untuk memberikan titik perhatian pada pembaca. Seperti yang dilakukan Muhammad Fathi ketika menulis 150 Qishatan Tudlî’u Laka al-Hayât (seratus lima puluh kisah yang mencerahkan hidupmu) penulis asal Mesir tersebut menyajikan 150 kisah yang diambil dari tokoh-tokoh populer –ulama—yang banyak melahirkan karya besar seperti perjuangan muhadis dalam mengumpulkan hadis dengan perjalanan panjang dan kisah-kisah inspiratif lainnya. Di akhir dari setiap kisahnya diberi semacam intense quote  untuk menyajikan pesan sentral dari penulisnya dengan istilah al-Idlâ’ah bisa diartikan pencerahan.

Sebenarnya banyak data yang bisa disajikan ulang atau disederhanakan dari kitab-kitab klasik yang relatif lebih “baru” seperti kitab-kitab tafsir, Hayâtu Shahâbah , al-Rijâl Haula al-Rasûl dan lainnya untuk bisa dikomunikasikan kepada khalayak terutama mereka yang tidak bisa membaca buku-buku berbahasa Arab. Diharapkan ke depan bisa dikembangkan lagi untuk memperkaya khazanah perbukuan kita.

Sebagai tahap awal upaya penyusunan buku ini pantas disebut kreatif; menjadikan suatu yang lama dan usang menjadi nampak baru dan bermanfaat, meminjam istilah KH. Hasyim Muzadi, tugas ulama adalah “menyederhanakan yang sulit.”