Studi Tentang Bohong

Mungkin satu dari pelanggaran-pelanggaran paling nyata terhadap etika adalah berbohong. Menyelewengkan kebenaran sedemikian lazim sehingga suatu survei menemukan bahwa 75 % subjeknya percaya bahwa ada kekurangjujuran pada pemerintahan dibandingkan dengan satu dekade lalu. Dalam studinya tentang berbohong, filosof Sissela Bok mendefinisikan  suatu kebohongan sebagai “suatu pesan yang sengaja menipu dalam bentuk suatu pernyataan”; ia menekankan niat seseorang untuk menipu atau menyesatkan lewat komunikasi verbal.

Paul Ekman, juga  menghubungkan berbohong dengan niat pembohong baik untuk menyembunyikan dengan “membuang informasi yang benar” atau memalsukan, “menyajikan informasi palsu seolah-olah informasi itu benar.”

P.Lippard dalam hasil studinya  mengenai penipuan menunjukkan bahwa orang mengemukakan lima alasan untuk berbohong: untuk melindungi atau memperoleh sumber daya material (uang, pekerjaan atau apartemen); untuk mengurangi atau meningkatkan afiliasi mereka dengan orang lain; untuk melindungi diri mereka sendiri dengan menghindari penyingkapan diri atau meningkatkan atau melindungi citra diri mereka; untuk menghindari konflik; untuk melindungi orang lain.

Menurut Imam Ghozali bohong ada tiga macam:

  • Wajib: Jika tujuan baik itu suatu kewajiban dan hanya bisa dicapai dengan cara berbohong maka bohong menjadi wajib.
  • Mubah/Jaiz: Jika suatu tujuan baik hanya bisa dicapai dengan satu cara (berbuat bohong) maka bohong menjadi boleh jika pencapaian tujuan tersebut dibolehkan
  • Haram: Suatu tujuan baik bisa dicapai dengan kejujuran dan kebohongan secara bersamaan, maka bohong menjadi haram (artinya pilih cara yang jujur).
  • Manfaat berbuat bohong itu harus dibandingkan dengan manfaat dan madarat kejujuran, jika jujur lebih besar madaratnya dan berakibat membahayakan maka harus berbohong. Jika madarat berbohong lebih besar dan lebih membahayakan maka berbohong menjadi haram, demikian juga jika ragu tidak tahu manfaat dan madarat mana yang lebih besar antara jujur dan bohong, pada saat itu bohong menjadi haram.

Menurut Ibn Syihab berbohong diperbolehkan:

  • Dalam perang
  • Untuk kemaslahatan umum
  • Suami terhadap istrinya dan istri terhadap suami (untuk menjaga kedamaian keluarga) (Badru tamam p.339)

Semua bohong itu dosa kecuali berbohong yang bermanfaat bagi muslim dan untuk mempertahankan agama. (al-Tsaubani)

Berikut ini beberapa artikel studi tentang bohong.

BBC

Liputan 6.com

UIN Jkt

Elshinta.com

Dan masih banyak artikel lain yang menyoroti masalah bohong.