PBSB Dari Masa ke Masa (Catatan Evaluatif Atas Program Beasiswa santri Berprestasi)

Sejak tahun 2015 digulirkan program PBSB yang bertujuan atara lain:

Sebagai pemberdayaan sosial bagi santri melalui upaya memperluas akses bagi santri berprestasi yang memiliki kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan prestasi untuk memperoleh pendidikan tinggi, melalui tindakan afirmatif dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Tidak sedikit para santri yang mempunyai kemampuan luar biasa, kecerdasan yang imajiner, namun mereka terhalang untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kedepannya, mereka diharapakan menjadi pelopor bangsa yang siap mengabdi kepada pondok pesantren dan negeri Indonesia tercinta;

Sebagai pemberdayaan sosial bagi pesantren melalui upaya meningkatkan kualitas SDM pondok pesantren di bidang sains, teknologi serta sosial kemasyarakatan agar dapat mengoptimalkan peran pembangunan dimasa mendatang, melalui penguatan keilmuan di perguruan tinggi dan program pengabdian paska lulus. Banyak pondok pesantren yang mengalami kendala karena minimnya jangkauan akses. Pesantren kekurangan SDM dalam beberapa hal utamanya saat dihadapkan dengan kemajuan zaman. Misalnya, dalam bidang teknologi informasi, sains, dan lain sebagainya. Dengan adanya program ini, diharapkan akan tumbuh generasi pesantren yang melek teknologi informasi dan tidak ketinggalan zaman;

Upaya pemberdayaan pesantren melalui upaya penguatan pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pengembangan masyarakat, dengan pembentukan jaringan kerjasama antara dunia pendidikan tinggi dengan pondok pesantren;

PBSB dari Masa Ke Masa:

Program PBSB pada masa awal tahun 2005 an peserta (input) sangat luas dan tidak terfokus ke santri saja tapi mencakup siswa-siswi MA, SMA, SMK, Paket C & Muadalah. Sedangkan kesempatan terbuka bagi santri untuk ikut ke jalur pendidikan umum: kedokteran, pertanian dll. Pada masa ini sosialisasi belum merata sehingga pendaftar sedikit

Kemudian pada ahun 2009 an sosialiasi meluas pendaftar meningkat, namun pembatasan jurusan dari pesantren (santri murni) dibatasi pada UIN & IAIN dengan fakultas tertentu: Dakwah, Syariah, (mulai pemasungan santri) hal ini memungkinkan non santri masuk ke program umum lebih dominan.

Pada masa 2014 an hiruk-pikuk rebutan beasiswa mulai terasa, adapun input masih terbuka untuk MA, SMA, SMK, Paket C & Muadalah serta alumni pesantren masih dibatasi fakultasnya, dan pada tahun 2015-2016 input mulai lebih khusus pada lulusan MA, Paket C pesantren & Mu’adalah, ini menunjukkan adanya usaha untuk penjaringan santri berprestasi secara lebih focus, hanya saja para santri seperti dari pesantren muadalah masih dibatasi pada fakultas tertentu dengan jurusan tertentu artinya dari segi penjaringan lebih tertutup dengan pengkhususan pada lembaga dibawah naungan kemenag, hanya saja dari segi kesempoatan bagi santri untuk mengakses prodi umum masih tetap dibatasi.

 

Beberapa Masalah:

Seperti yang disepakati dalam persyaratan penjaringan  bahwa alumni PBSB diharuskan mengabdi di pesantren asalnya, namun kenyataannya tidak semua alumni PBSB siap ke pesantren (manusiawi). Bahkan ada alumni PBSB tidak kenal siapa kyainya atau sebaliknya, ini berarti bahwa tujuan program seperti dicanangkan sulit dicapai secara maksimal. Sedangkan pola pengabdian alumni juga masih memerlukan pembenahan di sana-sini, demikian juga berkenaan input peserta program yang masih terlalu terbuka.

Usulan Pembenahan Pasca 2016:

Untuk lebih tepat sasaran, alangkah baiknya jika pola rekrutmen peserta program dan pola distribusinya diambil dari terjemahan atas pengertian pesantren, pengertian santri, serta tujuan program sebagaimana yang dirumuskan.

Pertanyaan sekitar apakah MAN penyelenggara boarding school dapat masuk kategori pesantren? Kemudian apakah siswa-siswinya bisa disebut santri? Pemisahan  kategori ini diperlukan agar program tepat sasaran dan tidak bertabrakan dengan program beasiswa yang lain seperti bidik misi misalnya.

Adapun dari segi input alangkah baiknya jika  kader pesantren yang siap kembali kembali ke pesantren sebagaimana tujuan program yang dicanangkan. Kemudian pemilihan jurusan/ fakultas harus terbuka (santri tidak dikungkung dalam keilmuan tertentu). Alasan semua dimensi ilmu akan bermanfaat ke pesantren dan tetap tafaquh fiddin. Maka SDM Pesantren meningkat (disain pesantren ke depan) dan Program akan (harus) berarti pengembangan dan pembangunan pesantren.

Biaya bisa dioptimalkan untuk lebih tepat sasaran / memperbanyak kader dan bisa selesai secara terencana pada titik tertentu: Jika di Indonesia ada 3000 pesantren, kuota PBSB 1000 orang/tahun maka akan selesai pengkaderan selama 3 th angkatan.

Jika setiap bidang ilmu diasumsikan harus dimiliki oleh setiap pesantren (sesuai kebutuhan) misalkan 1 dokter, 1 ahli hadits, 1, ahli tafsir, 1 ahli falak, ahli pertanian, peternakan  dst maka tinggal dikalikan saja. Misalkan setiap pesantren dapat jatah PBSB 3 keahlian ilmu, maka proses pengkaderannya bisa selesai dalam 3 angkatan PBSB.

Pembinaan Alumni:

  1. Ada serah terima antara lembaga pemberi beasiswa dengan lembaga penerima beasiswa (hubungan antar lembaga bukan antar perorangan).
  2. Lembaga harus memberikan lahan pengabdian bagi alumni yang jelas, ditugaskan dan dievaluasi (minimal 5 th).
  3. Biaya yang ditimbulkan karena pengabdian ditanggung oleh lembaga (honor dan biaya hidup).
  4. Setelah 5 tahun alumni boleh memilih untuk lanjut di lembaga tersebut atau mengabdi di tempat lain.
  5. Kyai/ pimpinan lembaga berhak untuk memberi tugas pengabdian di luar pesantren asal dengan adanya permohonan tertulis dari lembaga dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan.
  6. Bisa juga digandengkan dengan program lain (misalkan program pengembangan pesantren dari direktorat, para alumni dijadikan sarjana pendampingnya) ini opsi lain. (M. Tata Taufik)